PEREKONOMIAN DI INDONESIA 2012
Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Standard Chartered
(SCB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 mencapai 5,8
persen. Lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2011 yang sebesar
6,5 persen.
"2011 adalah tahun yang penuh krisis seperti krisis keuangan Eropa dan
Arab Springs di Timur Tengah, namun perekonomian Indonesia berhasil
tumbuh dengan sangat baik, tapi Indonesia harus tetap berhati-hati untuk
memulai 2012," kata Direktur Standard Chartered Bank Indonesia Tom
Aaker di Jakarta, Rabu (11/1).
SCB mengeluarkan laporan mengenai prediksi kondisi perekonomian global
dan sejumlah negara. Kajian itu menunjukkan bahwa pertumbuhan
perekonomian global melambat menjadi 2,2 persen pada 2012 dari 3 persen
pada 2011.
Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,8 persen pada 2012
karena dampak menurunnya investasi langsung (FDI) dan penarikan dana
valuta asing yang mendominasi dana perbankan, serta berkurangnya ekspor.
"Kalau Euro memburuk, harga surat utang negara Eropa yang diterbitkan
oleh negara bermasalah seperti Yunani, Irlandia, Portugal dan Spanyol
akan terus melemah, akhirnya perbankan Eropa juga terkena imbas karena
ada SUN bermasalah senilai 300 miliar euro," kata ekonom SCB Fauzi
Ichsan.
Kondisi tersebut membuat perbankan Eropa terpukul dan tidak bisa
menyuntik modal segar untuk mempertahankan Rasio Kecukupan Modal (CAR)
dari dalam Eropa, artinya menarik dana dari perbankan Asia.
"Valuta asing yang ditarik dari bank di Asia membuat perbankan Asia
kekurangan valas untuk membiayai belanja modal, dengan pembelian modal
yang terbatas maka investasi swasta pun melamban," jelas Fauzi.
Dengan perhitungan tersebut, SCB memperkirakan pertumbuhan investasi
tampaknya akan berkurang menjadi 8,2 persen dari 10,3 persen pada 2011.
Namun pertumbuhan konsumsi domestik diperkirakan tetap pada posisi 4,7
persen pada 2012.
Sementara inflasi tampak akan mencapai 5 persen pada akhir 2012 sebagai
akibat meningkatnya tarif dasar listrik dan harga bahan bakar minyak
serta meningkatnya harga beras pascabanjir di Thailand.
Kondisi surplus anggaran 0,1 persen dari produk domestik bruto (GDP)
pada 2011, menurut SCB, membuat pemerintah dapat menolak tajam kenaikan
harga BBM meski subsidi membutuhkan 17,5 persen APBN 2012. Caranya
adalah dengan meningkatkan pajak dari sektor komoditas seperti minyak
kelapa sawit dan batu bara.
Untuk suku bunga bank Indonesia diperkirakan turun ke posisi 5,75 persen
pada kuartal pertama 2012. BI tampaknya juga akan mengurangi "net
interest margin" perbankan Indonesia ke posisi 5,5-6 persen sehingga
mengurangi pertumbuhan kredit bank sebesar 20 persen pada 2012.
Defisit anggaran berangsur-angsur meningkat dari 0,6 persen dari nilai
GDP pada 2010 (dari target pemerintah 2,1 persen) ke 1 persen pada 2011
(dari target pemerintah 2,1 persen) ke 1,3 persen pada 2012 (dari target
1,5 persen).
Namun persoalan masih mengadang agar perekonomian Indonesia dapat
tumbuh. Misalnya ketidakmampuan sebagian besar 497 pemerintah tingkat
dua untuk membangun proyek infrastruktur secara efektif dan kerumitan
mekanisme pengalokasian dana dari pusat ke daerah.
"Padahal sangat penting bagi pemerintah untuk meningkatkan pembangunan
infrastruktur karena melambatnya investasi sektor swasta," kata
Fauzi.(Ant/BEY)






0 comments:
Post a Comment